Senin, 15 April 2013

SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MANUSIA DAN HEWAN



A. Peredaran Darah pada Manusia

Sistem peredaran darah pada manusia termasuk sistem peredaran darah tertutup, artinya darah mengalir melalui pembuluh darah. Sistem peredaran darah pada manusia juga disebut sistem peredaran darah rangkap. Artinya, dalam satu kali edar, darah ,melewati jantung sebanyak dua kali. Saat darah beredar menuju paru-paru dan saat darah beredar menuju ke seluruh tubuh. Peredaran darah dari jantung menuju paru-paru dan kembali ke jantung disebut peredaran darah kecil. Sementara itu, saat darah beredar dari jantung ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung disebut peredaran darah besar.

Sistem peredaran darah mempunyai fungsi sebagai berikut.
1. Mengangkut zat makanan dan zat sisa hasil metabolisme.
2. Mengangkut zat buangan dan substansi beracun menuju hati untuk dinetralkan.
3. Mengangkut zat buangan dan substansi beracun menuju ginjal untuk dibuang.
4. Mendistribusikan hormon dari kelenjar dan organ yang memproduksinya ke sel-sel tubuh yang membutuhkan.
5. Mengatur suhu tubuh melalui aliran darah.
6. Mencegah hilangnya darah melalui mekanisme pembekuan darah.
7. Melindungi tubuh dari bakteri dan virus dengan mensirkulasikan antibodi dan sel darah putih.

Sistem peredaran darah memiliki tiga komponen utama sebagai berikut.
1. Darah, berfungsi sebagai medium pengangkut zat makanan, udara, dan zat buangan.
2. Jantung, berfungsi memompa darah sehingga dapat beredar ke seluruh tubuh.
3. Pembuluh darah, sebagai saluran tempat darah beredar ke seluruh tubuh.

1. Darah

Manusia rata-rata mempunyai enam liter darah atau sekitar 8% dari total berat badan manusia. Apabila contoh darah diambil kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu disentrifugasi maka tampak darah tersusun atas 55% plasma darah dan 45% sel-sel darah.

a. Plasma Darah
Plasma darah terdiri atas 90% air dan 10% sisanya zat-zat yang terlarut di dalamnya.

b. Sel-Sel Darah
Di dalam darah terdapat tiga macam sel darah yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).

1) Sel Darah Merah (Eritrosit)
Karakteristik sel darah merah sebagai berikut.
a) Eritrosit merupakan komponen utama sel darah yaitu sekitar 99%
b) Setiap mm3 darah pada seorang laki-laki mengandung ± 5 juta sel darah merah dan pada seorang perempuan ±4 juta sel darah merah.
c) Berbentuk bikonkaf, sehingga memiliki permukaan yang lebar.
d) Tidak berinti, sehingga tidak dapat hidup lama
e) Berwarna merah karena mengandung hemoglobin. Hemoglobin yaitu molekul kompleks dari protein dan molekul besi hemin. Hemoglobin berperan mengikat oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh sel tubuh. Jadi, di paru-paru terjadi reaksi antara hemoglobin dengan oksigen.
2Hb­2 + 4O →4HbO2 (oksihemoglobin)
Setelah sampai di sel-sel tubuh terjadi reaksi pelepasan oksigen oleh Hb.
4HbO2 → 2Hb+ 4O2
f) Saat dalam rahim ibu, eritrosit dibentuk dalam hati dan limpa. Setelah dilahirkan, eritrosit dibentuk di sumsum tulang. Misalnya di tulang dada, tulang lengan atas, tulang kaki atas, dan tulang pinggul.
g) Umur eritrosit sekitar 120 hari. Setelah mati akan dirombak dalam hati menjadi bilirubin dan biliverdin (zat warna empedu). Zat besi hasil perombakan tersebut kemudian dikirim ke hati dan limpa untuk digunakan membentuk eritrosit baru.

2) Sel Darah Putih (Leukosit)
Karakteristik sel darah putih sebagai berikut.
a) Leukosit memiliki inti sel, sehingga dapat bertahan hidup berbulan-bulan.
b) Tidak mengandung hemoglobin sehingga tidak berwarna merah.
c) Ukurannya lebih besar daripada eritrosit.
d) Leukosit dibentuk di dalam sumsum merah, limpa, dan kelenjar getah bening atau kelenjar limfe.

Sel darah putih berdasarkan karakteristik sitoplasmanya dapat dibagi menjadi dua yaitu granulosit dan agranulosit.
a) Granulosit merupakan sel darah putih yang sitoplasmanya bergranula. Granulosit terdiri atas neutrofil, eosinofil, dan basofil.

1) Neutrofil merupakan sel darah putih yang granulanya menyerap zat warna yang bersifat netral. Neutrofil ini merupakan komponen terbesar dalam sel darah putih. Neutrofil berfungsi memakan kuman penyakit, contohnya bakteria. Jika terjadi infeksi karena bakteri, jumlah neutrofil akan meningkat keadaan ini disebut leukosit tosis.
2) Eosinofil merupakan sel darah putih yang granulanya menyerap zat warna yang bersifat asam. Jumlah eosinofil dalam sel darah putih sekitar 2%. Fungsi sel ini untuk mengatasi jenis-jenis penyakit karena alergi.
3) Basofil merupakan sel darah putih yang granulanya menyerap zat warna yang bersifat basa. Basofil ini menghasilkan heparin yang berfungsi dalam proses pembekuan darah.

b) Agranulosit merupakan kelompok sel darah putih yang sitoplasmanya tidak bergranula. Kelompok sel ini meliputi limfosit dan monosit. Limfosit tidak dapat bergerak dan berfungsi untuk membentuk antibodi yang berperan dalam menjaga kekebalan tubuh. Sementara itu, monosit merupakan sel darah putih yang dapat bergerak seperti Ameoba dan bersifat fagosit. Monosit ini diproduksi oleh jaringan limfe.

Secara umum leukosit mempunyai fungsi sebagai berikut.
a) Menghancurkan kuman penyakit dan zat asing secara fagositosis.
b) Mengangkat lemak dan menghasilkan histamin. Histamin merupakan zat yang berperan dalam timbulnya alergi.
c) Melumpuhkan kuman penyakit yang berada di luar darah. Caranya dengan menembus keluar dinding pembuluh kapiler dan masuk ke dalam jaringan yang menyimpan zat asing tersebut. Kemampuan leukosit seperti ini disebut diapedesis.

Di dalam tubuh, jumlah leukosit sekitar 7.000 sel per milimeter darah. Jumlah tersebut dapat meningkat dan menurun. Pada penderita kanker darah, leukositnya akan meningkat sampai 50.000 sel setiap milimeternya. Keadaan ini dapat membahayakan tubuh karena dalam jumlah sangat besar leukosit akan memakan eritrosit.

Jumlah leukosit dapat menurun karena terinfeksi kuman, misalnya tifus atau terkena radiasi yang kuat. Keadaan tersebut dapat menganggu pembuatan leukosit. Jumlah leukosit yang menurun juga dapat menurunkan tingkat kekebalan tubuh sehingga tubuh dapat dengan mudah terserang bibit penyakit.

3) Keping Darah (Trombosit)
Keping darah (trombosit) merupakan fragmen-fragmen besar sel yang disebut megakariosit. Karakteristik keping darah sebagai berikut.
a) Keping darah berukuran kecil, bentuknya tidak beraturan.
b) Keping darah tidak berinti sehingga berumur pendek.
c) Masa hidup keping darah ±10 - 12 hari.
d) Dalam setiap milimeter darah terdapat keping darah sekitar 200.000-400.000 butir.

Keping darah ini berperan dalam proses penggumpalan darah. Mekanisme penggumpalan darah sebagai berikut.

Apabila pembuluh darah rusak, terluka, atau terpotong maka darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah. Akan tetapi, darah tersebut akan berhenti mengalir keluar karena terjadi proses penggumpalan darah. Bagaimana mekanisme penggumpalan darah tersebut? Di dalam plasma darah terdapat trombosit yang akan pecah jika menyentuh permukaan yang kasar. Jika trombosit pecah, enzim tromboplastin yang dikandungnya akan bercampur dengan plasma darah. Selain  trombosit, dalam plasma darah terdapat protombin menjadi trombin dipicu oleh ion kalsium (Ca2+). Protombin adalah suatu protein plasma yang pembentukannya memerlukan vitamin K.

Trombin berfungsi sebagai enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrinogen adalah suatu protein yang terdapat dalam plasma. Adapun fibrin adalah protein berupa benang-benang yang tidak larut dalam plasma. Benang-benang fibrin yang terbentuk akan saling bertautan sehingga sel-sel darah merah beserta plasma akan terjaring membentuk gumpalan. Jaringan baru akan terbentuk menggantikan gumpalan tersebut dan luka akan menutup.

c. Golongan Darah
Seseorang dikatakan mengalami kekurangan darah ketika volume darahnya kurang dari normal. Kekurangan darah dapat disebabkan oleh penyakit atau karena luka. Agar fungsi transportasi tidak terganggu diperlukan transfusi darah.

Meskipun semua jenis darah tampaknya sama, tetapi kandungan proteinnya sangat beragam. Apabila protein asing yang tidak sesuai masuk ke dalam tubuh maka tubuh akan berusaha untuk membunuhnya dengan cara penggumpalan (aglutinasi). Protein asing tersebut dinamakan antigen atau aglutinogen. Adapu penyebab timbulnya zat penolak dinamakan antibodi atau aglutinin. Aglutinin terdapat di dalam eritrosit, sedangkan aglutinin terdapat dalam plasma darah.

Pada tahun 1990 karl Landsteiner seorang ahli imunologi menemukan perbedaan aglutinogen dan aglutinin yang terkandung dalam darah manusia. Atas dasar inilah Landsteiner memperkenalkan sistem ABO yang membedakan darah ke dalam empat golongan sebagai berikut.

1) Golongan darah A
Apabila eritrosit seseorang mengandung aglutinogen A, sedangkan plasma darahnya mengandung aglutinin β (anti -B) maka orang tersebut bergolongan darah A.

2) Golongan darah B
Apabila eritrosit seseorang mengandung aglutinogen B, sedangkan plasma darahnya mengandung aglutinin maka orang tersebut bergolongan darah AB.

3) Golongan darah AB
Apabila eritrosit seseorang mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B, sedangkan plasma darahnya tidak mengandung aglutinin maka orang tersebut bergolongan darah AB.

4) Golongan darah O
Apabila eritrosit seseorang tidak mengandung aglutinogen, sedangkan plasma darah mengandung aglutinin α dan aglutinin β maka orang tersebut bergolongan darah O.

Penggolongan darah ABO berperan dalam transfusi darah. Transfusi darah adalah proses pemindahan darah dari tubuh seseorang ke dalam tubuh orang lain. Orang yang menerima darah disebut penerima (resipien). Adapun orang yang memberikan darahnya disebut pemberi atau donor.

Hal yang harus diperhatikan dalam transfusi darah adalah jenis aglutinogen donor dan aglutinin resipien.aglutinin memiliki kemampuan untuk menggumpalkan eritrosit. Jadi, apabila darah donor tidak sesuai dengan resipien maka aglutinogen  donor akan bercampur dengan aglutinin resipien, darah resipien akan menggumpal. Darah donor yang bercampur dalam tubuh akan dianggap sebagai antigen oleh tubuh.

Seseorang dengan golongan darah O disebut donor universal karena dapat ditransfusikan kepada semua golongan darah (sistem ABO). Adapun darah AB disebut sebagai resipien universal karena dapat menerima semua golongan darah  (sistem ABO). Akan tetapi pada prakteknya, hal tersebut jarang dilakukan karena kemungkinan adanya ketidakcocokan darah di luar sistem ABO.

Pada tahun 1940, Dr. Landsteiner menemukan bahwa golongan darah A juga dapat diberikan kepada kera Macaca rhesus. Akan tetapi, 15% dari jumlah sampel yang mengalami penggumpalan tersebut tidak memiliki faktor Rh dalam darahnya. Darah yang demikian disebut dengan rhesus negatif (rh-). Adapun jika mengandung aglutinogen rhesus maka termasuk bergolongan darah rhesus positif (rh+).

Sistem rhesus ini sangat penting diperhatikan oleh ibu hamil. Jika darah ibu tersebut rh-, sedangkan bayi yang dikandungnya rh+, dikhawatirkan ada antigen rh+ bayi yang masuk ke dalam darah ibu. Akibatnya, akan dibentuk aglutinin rh dalam tubuh ibu. Kondisi ini akan membahayakan anak yang dikandungnya. Pada kehamilan pertama, kemungkinan besar anak yang dilahirkan akan selamat karena belum banyak terbentuk anti-rh dalam tubuh ibu. Pada kehamilan kedua dan seterusnya, resiko terjadi penggumpalan pada darah bayi semakin besar karena anti-rh yang terbentuk dalam tubuh si ibu semakin banyak. Keadaan tersebut dinamakan eritroblastosis fetalis.

d. Penyakit dan Gangguan yang Berhubungan dengan Darah

1) Anemia
Anemia merupakan penyakit kekurangan darah hemoglobin, Fe, dan eritrosit di dalam tubuh. Gejalanya muka pucat, lesu, sakit kepala, dan gangguan menstruasi.

2) Leukimia
Leukimia merupakan kondisi produksi sel darah putih melebihi batas normal. Leukimia dapat terjadi karena adanya jaringan penghasil sel-sel darah tumbuh secara abnormal. Leukimia juga disebabkan oleh infeksi virus, terkena sinar radioaktif, terkena zat-zat kimia, serta faktor keturunan (genetis). Gejala penyakit ini yaitu pucat, lesu, demam, dan pendarahan.

3) Thalasemia
Thalasemia merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan produksi hemoglobin dan eritrosit. Thalasemia merupakan penyakit keturunan/genetik. Gejalanya antara lain anemia, pembesaran limfa, bentuk tulang abnormal, dan gangguan pertumbuhan.

4) Sickle Cell
Sickle cell merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan bentuk sel darah merah menyerupai bulan sabit. Sel darah merah yang berbentuk bulan sabit tersebut mudah saling tindih pada pembuluh darah. Akibatnya, sel darah tersebut menyumbat pembuluh darah dan terjadi hemotisis (pecah). Selain itu, sel darah merah dengan bentuk bulan sabit memiliki daya ikat yang lemah terhadap oksigen.

2. Jantung

a. Struktur Jantung
Jantung merupakan organ yang sangat penting pada proses peredaran darah. Jantung manusia terdiri atas empat ruang, yaitu atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Secara struktur, dinding atrium lebih tipis daripada dinding ventrikel. Adapun dinding ventrikel kiri lebih tebal daripada ventrikel kanan. Hal ini karena ventrikel kiri memerlukan kekuatan yang lebih besar untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Atrium kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat yaitu septum atrioreum. Sementara itu, ventrikel kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat yaitu septum interventrikularis. Saat embrio sekat atrium belum tertutup, sehingga pada sekat ini terdapat lubang. Lubang tersebut dinamakan foramen ovale. Adapun sekat pemisah antara atrium dan ventrikel dinamakan septum atrioventrikularis.

Selain sekat, jantung juga memiliki katup yang disebut valvula. Katup jantung yang berada di antara atrium kanan dan ventrikel kanan disebut valvula trikuspidalis. Katup antara atrium kiri dan ventrikel kiri dinamakan valvula bikuspidalis. Katup-katup tersebut berfungsi untuk menjaga agar darah dalam jantung tidak kembali ke tempat semula. Selain pada jantung, di aorta juga terdapat katup yang disebut valvula semilunaris.

Otot jantung (miokardium) memiliki struktur seperti otot lurik tetapi bercabang-cabang. Otot jantung ini disarafi oleh saraf tidak sadar. Saraf tersebut menempel di jantung bagian tengah, di antara dua bilik sabagai berkas yang menyebar. Berkas saraf ini disebut berkas His.

Saat melakukan fungsinya, jantung berdenyut dengan siklus konstraksi-relaksasi. Periode relaksasi yaitu atrium menguncup dan ventrikel mengembang (relaksasi). Kondisi ini disebut diastol. Adapun periode konstraksi disebut sistol, terjadi saat otot ventrikel berkonstraksi (ventrikel menguncup) dan darah terdorong keluar. Pada umumnya, orang dewasa yang normal memiliki tekanan sistol kurang lebih 120 mmHg dan tekanan diastol kurang lebih 80 mmHg. Tekanan darah ini dapat diketahui menggunakan alat tensimeter atau spigmomanometer.

b. Penyakit dan Gangguan pada Jantung

1) Jantung Koroner
Penyakit ini disebabkan adanya penyumbatan pada arteri kecil di dinding jantung yang terjadi karena penebalan dinding jantung sebelah dalam. Akibatnya aliran darah menjadi kurang lancar. Apabila tidak segera diatasi, penyumbatan ini dapat menyebabkan sel-sel otot jantung mengalami kematian sehingga terjadi gangguan dalam konstraksi otot jantung.

Gangguan konstraksi jantung dapat menghambat pemompaan darah. Orang-orang yang rentan terhadap penyakit jantung koroner yaitu perokok, orang yang mengonsumsi lemak berlebihan, dan orang-orang lanjut usia.

2) Gagal Jantung
Gagal jantung atau Heart Failure merupakan penyakit jantung yang paling menakutkan. Biasanya jantung penderita berdetak tidak normal atau tidak berdetak sebagaimana mestinya.

3) Pericarditis
Pericarditis adalah penyakit radang yang mengintari lapisan jantung yang disebabkan oleh infeksi. Namun ini jarang terjadi.

4) Irama Jantung Abnormal
Jantung secara normal berdetak 60-100 kali per menit (sekitar 100 ribu/hari). Jantung yang berdetak tidak normal disebut arryhytmia atau dysrhythamia. Jantung yang berdetak lambat (di bawah 60 kali/menit) disebut bradyarrhythmia, sedangkan yang cepat (berdetak di atas 100 kali/menit) disebut tachyaarrhytmia.

5) Heart Valve Disease
Penyakit ini merupakan gangguan jantung akibat rusaknya katup jantung. Katup jantung ini berfungsi sebagai pengatur aliran darah yang masuk searah menuju jantung.

6) Cardiomyopathies
Gangguan otot jantung yang ditandai dengan adanya pembesaran atau pengecilan jantung secara tidak normal, sehingga jantung menjadi kaku. Akibatnya jantung bisa melemah sehingga jantung memompa secara tidak normal. Tanpa penanganan lebih lanjut bisa berakibat gagal jantung atau jantung bisa berdetak tidak normal.

Penyakit jantung biasanya terjadi akibat gaya hidup, pola makan, dan aktivitas sehari-hari yang tidak sesuai dengan kesehatan.

3. Pembuluh Darah

Pembuluh darah pada manusia dibedakan menjadi dua macam, yaitu arteri dan vena.

a. Pembuluh Nadi (Arteri)
Istilah arteri biasa digunakan untuk pembuluh darah yang aliran darahnya mengalir meninggalkan jantung. Arteri berfungsi membawa darah dari jantung. Dinding arteri terdiri atas tiga lapisan yaitu lapisan terdalam yang berupa sel-sel epitel yang disebut endotelium. Lapisan tengah terdiri atas otot polos. Lapisan tengah ini berfungsi mengatur aliran darah dan tekanan darah. Sementara itu, lapisan terluar berupa jaringan ikat yang kuat dan elastis.

Elastisitas arteri ini turut membantu mempertahankan tekanan darah. Arteri yang lebih kecil (arteriola) memiliki dinding berotot polos. Otot polos ini untuk menyesuaikan diameter pembuluh darah, yaitu dengan meningkatkan atau menurunkan aliran darah. Jadi, terkadang pembuluh darah tersebut membesar, kadang mengecil.

Arteri ada dua macam, yaitu arteri pulmonalis dan aorta. Arteri pulmonalis berfungsi membawa darah kaya O2 dari jantung menuju paru-paru. Aorta berfungsi membawa darah kaya O2 dari jantung ke seluruh tubuh.

Arteri bercabang-cabang hingga membentuk pembuluh yang diameternya lebih kecil. Pembuluh ini disebut arteriola. Arteriola bercabang-cabang lagi hingga membentuk saluran halus yang berhubungan langsung dengan jaringan. Saluran halus ini disebut kapiler.

b. Pembuluh Balik (Vena)
Istilah vena digunakan untuk pembuluh darah yang aliran darahnya mengalir kembali menuju jantung. Jadi, fungsi vena ini membawa darah menuju jantung. Vena terdapat tiga macam yaitu vena cava superior, yang berfungsi membawa darah yang kaya CO2 dari tubuh bagian atas, vena cava inferior, membawa darah yang kaya CO2 dari paru-paru.

Vena lebih mudah dilihat mata, karena vena berada di lapisan atas dekat dengan permukaan kulit dan berwarna kebiruan. Pembuluh ini dimulai dari pembuluh darah kapiler. Dari kapiler, darah memasuki venula. Pembuluh-pembuluh venula akan bergabung menuju pembuluh vena. Jadi, berdasarkan aliran darahnya, pembuluh darah ada dua macam yaitu:
1) Pembuluh darah yang meninggalkan jantung terdiri atas arteri, arteriola, dan kapiler,
2) Pembuluh darah yang masuk ke jantung terdiri atas vena dan venula.

Penyakit dan gangguan pada Pembuluh Darah

a. Hipertensi
Hipertensi disebabkan oleh tekanan darah yang tinggi di dalam arteri. Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi bila nilai ambang tekanan sistolik antara 140-200 mmHg atau lebih, dan nilai ambang tekanan diastolik antara 90-110 mmHg atau lebih. Gejala hipertensi adalah sakit kepala, napas pendek, dan penglihatan kabur. Penyebab penyakit ini berkaitan dengan umur, kegemukan, dan keturunan. Kondisi hipertensi memang tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikontrol melalui pola hidup yang sehat, seperti:tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, diet rendah garam dan rendah lemak, olahraga secara teratur, serta istirahat bila lelah atau tegang.

b. Varises
Varises merupakan pelebaran pembuluh darah balik (vena). Varises biasanya terjadi di kaki.

c. Sklerosis
Arteri mempunyai sifat elastis. Oleh karena itu, ketika tekanan darah dalam keadaan maksimum, arteri mengembang untuk mengimbangi tekanan darah. Namun seiring dengan pertambahan usia, dinding arteri kehilangan elastisitasnya karena adanya penimbunan zat kapur. Keadaan ini disebut arteriosklerosis . hilangnya elastisitas juga terjadi karena adanya penumpukan kolesterol. Keadaan ini disebut atherosklerosis.

Artheriosklerosis dan artherosklerosis akan mempengaruhi volume darah yang mengalir dan jumlah oksigen yang disebarkan . arteriosklerosis dan atherosklerosis dapat mengakibatkan hal-hal berikut.

1) Kekurangan oksigen pada organ-organ tertentu. Jika kekurangan oksigen terjadi pada jantung maka sebagian otot jantung akan mati dan mempengaruhi kerja jantung.

2) Meningkatkan tekanan darah secara keseluruhan. Jika mencapai tingkatan tertentu, tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan pecahnya kapiler darah. Jika kapiler darah yang pecah tersebut terjadi di otak, sebagian otak akan mengalami gangguan akibat pasokan udara dan glukosa yang terhambat. Selanjutnya dapat terjadi stroke.

3) Penumpukan lemak di arteri koroner dapat menghambat sel-sel darah. Akibatnya akan memicu pembekuan darah. Pembekuan darah di arteri koroner disebut jantung koroner.

Mekanisme Peredaran Darah
Saat jantung berkonstraksi, atrium dan ventrikel mengembang serta mengucup secara bergantian. Apabila atrium mengembang, jantung menghisap darah dari seluruh tubuh melalui pembuluh balik (vena kava superior dan vena kava inferior). Darah yang diisap ini masuk ke atrium kanan dan darah dari vena pumonalis yang kaya oksigen masuk ke atrium kiri.

Bila atrium menguncup maka ventrikel mengembang dan darah mengalir dari atrium ke ventrikel. Ventrikel merupakan bagian jantung yang berfungsi memompa darah meninggalkan jantung.

Saat ventrikel menguncup dari ventrikel kiri, darah yang kaya oksigen dipompa ke seluruh tubuh melalui aorta, sedangkan darah yang kaya CO2 dipompa dari ventrikel kanan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Setelah darah terpompa keluar, otot ventrikel mengendur dan mengalami relaksasi.

B. Peredaran Darah pada Hewan

Semua hewan mempunyai sistem peredaran yang berfungsi membawa cairan ke seluruh tubuh. Cairan yang diedarkan ada dua macam, yaitu darah dan hemolimfa. Darah selalu mengalir dalam pembuluh darah dan hemolimfa mengalir ke dalam rongga tubuh yang disebut hemocoel. Hemolimfa merupakan campuran darah dan cairan interstitii.

Berdasarkan tempat mengalirnya, sistem peredaran darah pada hewan dibedakan menjadi dua, yaitu sistem peredaran darah terbuka dan sistem peredaran darah tertutup.

1. Sistem Peredaran Darah Terbuka
Pada sistem ini darah dan cairan lainnya tidak selalu diedarkan melalui pembuluh darah. Namun, pada saat tertentu darah meninggalkan pembuluh darah,langsung beredar di dalam pembuluh. Berikut beberapa hewan yang mempunyai sistem peredaran darah terbuka.

a. Udang
Mula-mula darah dipompa dari jantung melalui pembuluh darah menuju bagian bawah tubuh, seperti bagian kaki. Darah dari bagian kaki mengalir menuju insang bagian kiri dan kanan tanpa melalui pembuluh. Di insang, darah mengikat O2 dan kemudian kembali ke jantung.

b. Mollusca
Alat sirkulasi darah siput terdiri atas jantung dan pembuluh darah yang masih sederhana. Jantung siput terdiri atas atrium dan ventrikel, terletak di dalam rongga perikardi. Sirkulasi darah pada siput diawali dengan darah dipompa dari jaringan jantung mengalir melalui sinus menuju jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, darah kembali lagi ke jantung.

c. Serangga
Sistem peredaran darah serangga hanya terdiri atas sebuah pembuluh yang memanjang dan terletak membujur di atas saluran makanan. Sistem peredaran serangga tidak mengangkut O2 dan CO2 karena darah belalang tidak mengandung hemoglobin tetapi mengandung hemosianin. Oksigen diedarkan ke sel-sel tubuh dengan bantuan saluran udara (trakea).

Bagian belakang pembuluh terdiri atas beberapa gelembung yang disebut jantung pembuluh. Jantung pembuluh yang paling belakang tertutup. Bagian depan pembuluh merupakan aorta yang ujungnya terbuka. Jantung pembuluh mempunyai pori-pori (ostium) yang halus dan berdenyut. Darah dari jaringan tubuh dapat kembali ke jantung pembuluh melalui pori-pori (ostium). Jantung pembuluh dapat berdenyut sehingga darah terpompa mengalir menuju ke depan melalui aorta. Selanjutnya, darah dikeluarkan dari aorta kemudian masuk ke dalam jaringan-jaringan tubuh. Darah langsung beredar ke seluruh tubuh karena belalang tidak mempunyai pembuluh kapiler. Darah serangga berfungsi untuk mengangkut sari-sari makanan serta mengambil hasil buangan metabolisme.

1. Sistem Peredaran Darah Tertutup
Pada sistem peredaran tertutup, darah mengalir ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh. Berikut beberapa hewan yang mempunyai sistem peredaran darah tertutup.

a. Cacing Tanah
Cacing tanah memiliki sistem peredaran darah tertutup yang sederhana karena darah tidak pernah keluar dari pembuluh darah. Darah cacing tanah mengandung hemoglobin yang terlarut dalam plasma darah. Hemoglobin berfungsi mengangkat O2.

Terdapat tiga pembuluh darah pada cacing tanah, yaitu pembuluh darah punggung, pembuluh darah perut, dan pembuluh darah samping dengan lima pasang lengkung aorta yang berfungsi sebagai jantung.

Dinding kulit cacing tanah sangat tipis sehingga mampu mengabsorpsi oksigen masuk ke dalam pembuluh darah. Selanjutnya, darah yang mengandung O2 tersebut akan menuju pembuluh-pembuluh kapiler sampai ke pembuluh darah punggung. Darah di dalam pembuluh darah punggung akan mengalir ke belakang menuju arah kepala dan mengalir menuju pembuluh darah perut melalui lengkung aorta yang letaknya di dalam. Di dalam pembuluh darah perut, darah mengalir dari depan menuju ke belakang karena adanya denyut dari lima pasang lengkung aorta.

b. Ikan
Ikan memiliki jantung yang terbagi menjadi dua ruangan yaitu atrium dan ventrikel. Serambi berdinding tipis, sedangkan bilik bedinding tebal. Di antara serambidan bilik terdapat sebuah katup. Dari jantung, darah akan keluar melalui aorta ventral kemudian mengalir ke insang. Di dalam insang, aorta bercabang-cabang menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih kecil lagi dan akhirnya menjadi pembuluh-pembuluh kapiler. Pembuluh kapiler akan melepaskan CO2 ke dalam air dan mengambil O2 dari dalam air. Dari pembuluh kapiler pada insang, darah akan mengalir menuju aorta. Melalui cabang-cabang aorta, darah mengalir menuju pembuluh-pembuluh kapiler di seluruh tubuh. Selanjutnya, darah mengikat CO2 jaringan kemudian kembali menuju jantung melalui vena. Dalam satu kali peredaran, darah hanya satu kali beredar melalui jantung sehingga sistem peredaran darah pada ikan disebut sistem peredaran darah tunggal.

c. Katak
Jantung katak terdiri atas dua buah serambi yang berdinding tipis dan sebuah bilik. Darah yang kaya O­2 dari paru-paru masuk ke serambi kiri, sedangkan darah yang kaya CO2 dari jaringan tubuh akan masuk melalui serambi kanan. Dari serambi, darah masuk ke bilik sehingga terjadi percampuran antara darah yang mengandung O2 dan darah yang mengandung CO­2. Dari bilik darah akan dipompa keluar menuju aorta. Aorta yang keluar dari bilik bercabang menjadi dua lengkung aorta, yaitu lengkung aorta kanan dan lengkung aorta kiri.

Masing-masing lengkung aorta bercabang menjadi tiga, yaitu cabang yang menuju kepala, cabang yang membentuk arteri utama dan bercabang-cabang lagi menuju organ tubuh, serta cabang yang menuju ke paru-paru dan kulit. Di paru-paru dan kulit darah melepaskan CO2 dan mengambil O2 yang akhirnya akan dikirim kembali menuju serambi kiri melalui pembuluh balik paru-paru.

d. Reptil

Reptil mempunyai jantung yang terdiri atas empat ruangan. Antara bilik kanan dan kiri dibatasi oleh sekat yang belum sempurna sehingga dapat terjadi percampuran darah. Khusus pada jantung buaya, pada sekat antara ventrikel terdapat lubang kecil yang disebut foramen panizzae yang berfungsi sebagai berikut.

1) Memungkinkan distribusi oksigen yang cukup ke alat pencernaan.
2) Memelihara keseimbangan tekanan cairan di dalam jantung pada waktu menyelam.

Sistem peredaran pada reptil terdiri atas aorta dan pembuluh nadi paru-paru. Pada kadal terdapat dua aorta, yaitu aorta kanan dan aorta kiri. Aorta kanan keluar dari bilik kiri karena membawa darah yang mengandung O2 menuju ke seluruh tubuh. Aorta kiri berasal dari suatu tempat antara bilik kanan dan bilik kiri karena membawa darah yang mengandung O2 dan CO2 menuju ke seluruh tubuh bagian belakang. Kedua aorta bersatu membentuk arteri utama yang bercabang-cabang ke seluruh tubuh. Darah yang berasal dari seluruh tubuh akan kembali ke jantung melalui serambi kanan. Pembuluh nadi paru-paru keluar dari bilik kanan yang mengangkut darah yang kaya CO2. Di paru-paru, darah melepaskan CO2 dan mengambil O­2. Darah dari paru-paru yang kaya O2 akan menuju jantung melalui serambi kiri. Jadi sistem peredaran darah pada reptil merupakan peredaran darah ganda.

e. Aves
Aves memiliki sistem peredaran darah ganda, contohnya burung. Jantung burung terdiri atas empat ruang yaitu dua serambi dan dua bilik. Sekat antara ventrikel kanan dan kiri sudah sempurna sehingga tidak terjadi percampuran darah.

Pada mulanya darah beredar masuk ke jantung melalui vena menuju serambi kanan dan mengalir ke bilik. Selanjutnya, bilik akan memompa darah keluar jantung menuju paru-paru. Darah akan melepas CO2 melalui kapiler dan menyerap O2, selanjutnya, darah melalui vena pulmonalis menuju atrium kiri dan diteruskan ke bilik. Setelah itu, darah akan diedarkan ke seluruh tubuh.






0 komentar :

Template by : kendhin x-template.blogspot.com