Minggu, 21 April 2013

POLA-POLA HEREDITAS


A. HUKUM MANDEL

Tokoh yang terkenal dalam bidang genetika atau pewarisan sifat adalah Gregor Mendel. Ia mejelaskan bahwa adanya fenomena factor keturunan atau gen yang secara kekal diwariskan daari induk kepada keturunannya melalui hukum pemisahan.

Teori Mendel ini akhirnya dijadikan dasar dalam memahami genetika dan melakukan analisis atas pola-pola pewarisan sifat genetic. Kesimpulan hukum mendel ini dituangkan ke dalam 2 buah rumusan, yaitu :

Hukum Mendel I (pesilangan monohybrid)
‘pada waktu oembelahan gamet terjadi segregasi / pemisahan alel alel suatu gen secara bebas dari diploid menjadi haploid’

Hukum Mendel II (persilangan dihibrid)
‘pada saat pembentukan gamet, alel-alel berbeda yang telah bersegregasi bebas ajan bergabung secara bebas membentuk genotip dengan kombinasi-kombinasi alel yang berbeda.’

Dalam persilangan terdapat 3 jenis persilangan, yaitu :
1. Testcross : persilangan antara suatu individu yang tidak diketahui genotipnya dengan induk yang genotipnya homozigot resesif. Tujuan dari persilangan ini adalah untuk menguji heterozigositas suatu persilangan.

2. Backcross : persilangan antara anakan F1 yang heterozigot dengan induknya yang homozigot dominan, karena disilangkan seperti ini maka kemungkinan anak hasil dari persilangan itu hanya satu macam.

3. Resiprok : persilangan ulang dengan jenis kelamin yang dipertukarkan.

Interaksi –interaksi di dalam tubuh makhluk hidup dapat menyebabkan adanya penyimpangan semu hukum mendel. Ada 2 jenis penyimpangan, yaitu penyimpangan karena interaksi alel dan penyimpangan karena reaksi genetic.

Penyimpangan karena interaksi alel adalah :
1. Dominasi tidak sempurna (incomplete dominance) : alel dominan tidak dapat menutupi alel resesif sepenuhnya. Akibatnya individu heterozigot bersifat setengah dominan dan setengah resesif.

2. Kodominan : dua alel suatu gen yang menghasilkan produk berbeda dengan alel yang satu tidak dipengaruhi oleh alel yang lain.

3. Alel ganda : adanya tiga atau lebih alel dari suatu gen yang terjadi sebagai akibat dari mutasi. Contoh : warna rambut kelinci. Pertambahan jumlah anggota alel ganda menyebabkan bertambahnya kemunkinan genotip bagi masing-masing fenotip (polimorfisme)

4. Alel letal : alel yang dapat menyebabkan kematian bagi individu yang memilikinya pada saat masih menjadi embrio awal atau beberapa saat setelah kelahiran.
a. Alel letal resesif : alel yang dalam keadaan homozihot resesif dapar menyebabkan kematian. Contoh : albino ( 1 dari 4 keturunan akan mati)
b. Alel letal dominan : alel yag dalam keadaan homozigot dominan dapat menyebabkan kematian.


B. PENYIMPANGAN PADA HUKUM MANDEL

Selain interaksi antar alel, terdapat juga interaksi genetic yaitu adalah suatu keadaan dimana dua atau lebih gen mengekspresikan protein enzim yang mengkatalis langkah-langkah dalam suatu jalur yang sama. 
Interaksi genetic ini menyebabkan :
1. Atavisme : munculnya suatu sifat baru karena adanya interaksi dari beberapa gen. contoh : jengger ayam (persilangan antara rose dan pea menghasilkan walnut 100%, lalu disilangkan lagi sesama walnut)

2. Polimeri : bentuk interaksi gen yang kumulatif atau salin menambah sebagai akibat dari interaksi dua gen atau lebih, atau bisa disebut sebagai gen ganda. Contoh : percobaan H. Nillson-Ehle pada biji gandum (persilangan antara gandum berbiji merah gelap dengan putih menghasilkan merah sedang 100%, lalu disilangkan lagi sesama merah sedang)

3. Kriptomeri : sifat gen dominan yang tersembunyi jika gen tersebut berdiri sendiri, namun setelah berinteraksi dengan gen dominan lainnya akan muncul sifat yang tersembunyi itu. Contoh : bunga Linaria maroccana (persilangan anatar bunga merah dan putih yang menghasilkan keturunan ungu 100%, kemudia disilangkan sesame ungu)

4. Epistasis dan Hipostasis : gen yang menutupi dan yang ditutupi
a. Epistasis dominan : gen dengan alel dominan yang menutupi kerja gen lain. Contoh : labu putih disilangkan dengan labu hijau akan menghasilkan labu putih 100%, bila disilangkan lagi maka akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 12 : 3 : 1 (putih : kuning : hijau)

b. Epistasis resesif : gen dengan alel homozigot resesif yang mempengaruhi gen lain. Contoh : warna rambut tikus hitam dengan tikus putih akan menghasilkan tikus abu-abu agouti, bila disilangkan lagi akan menghasilkan perbandingan 9 : 3 : 4 (abu-abu : hitam : putih)

c. Epistasis dominan rangkap : peristiwa dua gen dominan atau lebih yang bekerja untuk munculnya satu fenotip tunggal. Contoh : persilangan biji segitiga dengan biji membulat menghasilkan 100% biji segitiga yang bila disilangkan lagi akan menghasilkan perbandingan 15 : 1 antara segitiga dan membulat

d. Komplementer / epistasis resesif rangkap : interkasi beberapa gen yang slaing melengkapi. Contoh : bunga Lathyrus odoratus. (perbadingan akhirnya 9 : 7 (ungu : putih)


C. TAUTAN DAN PINDAH SILANG

Selain karena adanya interaksi genetic dan alel, penyimpangan dalam hukum mendel juga bisa berasal dari adanya tautan dan pindah silang. Hal ini menyebabkan terjadinya rekombinasi di antara gen-gen pada sepasang kromosom. 
Tautan sendiri dibagi menjadi :

1. Tutan autosomal : gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama tidak dapat bersegregasi  secara bebas dan cenderung diturunkan bersama. Penelitian ini dilakukan oleh Thomas Hunt Morgan dengan menggunakan lalat buah yang dikembang biakkan dan akhirnya menemukan satu variasi baru berupa lalat bermata putih yang Ia sebut sebagai lalat mutan, karena berasal dari alel tipe normal yang mengalami perubahan atau mutasi. 

2. Tautan kelamin : percobaan pertama Morgan dilanjutkan dengan mengawinkan lalat buah bermata putih jantan dengan lalat buah betina bermata merah. Hasilnya seperti persilangan pada umumnya yaitu 3 : 1, hanya saja perbedaan yang muncul adalah keturunan bermata putih hanya ada paa jantan, dan ternyata warna mata pada lalat adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Sehingga diambil kesimpulan bahwa gen yang membawa mata putih hanya terdapat pada kromosom X. gen tertaut kelamin adalah gen yang terletak pada kromosom kelamin dan sifat yang ditimbulkan gen pada kromosom ini diturunkan bersama dengan jenis kelamin. Gen tertaut ini terbagi 2 menjadi sempurna yang terletak dibagian homolog dan tidak sempurna di bagian yang tidak sempurna.
a. Gen tertaut kromosom X : gen yang terdapat pada kromosom X, ini disebut gen tertaut kelamin yang tidak sempurna.
b. Gen tertaut kromosom Y : gen yang tertaut kelamin sempurna.

Gen-gen yang mengalami tautan pada satu kromosom tidak selalu bersama-sama pada saat pembentukan gamet melalui pembelahan meiosis, gen ini dapat mengalami pindah silang. Pindah silang adalah peristiwa pertukaran gen-gen suatu kromatid dengn gen-gen kkromatid homolognya, yang diikuti oleh patah dan melekatnya kromatid sewaktu profase dalam pembelahan meiosis.


D. GOLONGAN DARAH MANUSIA

Sistem penggolongan darah yang sering kita kenal adalah ABO, namun ada juga cara-cara lain yang juga dapat digunakan sebagai penentu golongan darah seseorang :

1) Sistem ABO : berdasarkan adanya dua macam antigen (A dan B) dan antibody (a dan b). antigen adalah glikoprotein yang terdapat pada permukaan sel darah mera, sedangkan antibody adalah molekul protein yang dihasilkan oleh sel-B untuk merespon adanya antigen dan terdapat pada serum atau cairan darah .

2) Sistem MN : penggolongan yang didasarkan adanya salah satu jenis antigen glikoprotein, yang disebut glikoforin A yang didapat dari reaksi antigen-antibodi. Terdapat 2 macam antigen glikoforin yaitu M dan N. reaksi dari keduanya dengan anti serum menghasilkan fenotip dan genotip golongan darah system MN.

3) Sistem Rh : system yang terakhir adalah dengan menggunakan factor Rh atau rhesus yang berasal dari percobaan pada eritrosit kera rhesus. Antigen rhesus ini berupa glikoprotein tertentu pada membrane plasma sel-sel darah merah dan membagi golongan darah manusia menjadi 2 kelompok berdasarkan reaksi penggumpalan antara antigen sel darah merah dengan anti serum Rh, yaitu positif dan negative.


E. JENIS KELAINAN DAN PENYAKIT GENETIKA


1. Pewarisan Alel Resesif Autosomal
a. Albino : lahir dengan tidak adanya pigmen kulit atau melanin sehingga kulit pucat dan berwarna putih.

b. Anemia sel sabit : disebabkan oleh substitusi suatu asam amino tunggal dalam protein hemoglobin berisi sel-sel darah merah. Factor keadaan lingkungan menjadi factor terpenting dari kelainan ini, dan juga factor genetic atau turunan.

c. Fibrosis sistik : disebabkan tidak adanya protein yang membantu transport ion klorida melalui membrane plasma. Kosentrasi ion klorida yang tinggi pada ekstra sel menyebabkan adanya lender yang menyelubungi sel sangat tebal dari normal sehingga menyebabkan organ-organ tubuh dipenuhi lender-lendir.

d. Fenilketonuria : penderita memiliki asam fenilketonuria yang berlebih sehingga merusak system saraf dan dapat menyebabkan keterbelakangan mental.

e. Galaktosemia : tidak adanya enzim yang dapat merombak laktosa pada bayi yang baru lahir, sehingga tidak dapat meminum ASI dari ibunya karena mengandung galaktosa. Kelainan ini bila dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan mata, hati, dan otak. Gejala yang muncul adalah malnutrisi, diare, dan muntah-muntah. Hal ini dapat dihindari dengan tes urin dan diobati dengan melakukan diet bebas laktosa.

f. Talasemia : adanya kelainan pada sel darah merah yang menyebabkan anemia pada penderitanya.

g. Xeroderma pigmentosum : pigmen kulit yang tidak normal sehingga dapat menyebabkan kanker kulit bila terpapar di bawah matahari

2. Pewarisan Alel Dominan Autosomal

a. Akondroplasia : pertumbuhan tulang rawan dan sejati yang gagal sehingga menyebabkan tubuh kerdil. Namun perkembangan otak, ukuran tubuh lainnya normal.

b. Brakidaktili : ruas-ruas tulang jari yang memendek sehingga menyebabkan jari tangan atau kaki memendek.

c. Penyakit Huntington : kelainan pada saraf yang menyebabkan penderita menggelengkan kepala ke satu arah karena adanya degenerasi yang cepat dan tidak dapat kembali.

d. Polidaktili : jumlah jari tangan maupun kaki yang berlebihan dari normalnya.

e. Penyakit ginjal polisistik pada orang dewasa : adanya kista pada ginjal yang dapat menyebabkan gagal ginjal, terjadi pada orang dewasa.

f. Progeria : kelainan berupa penuaan dini

g. Sindrom Marfan : tidak adanya jaringan pengikat

h. Sindrom Achoo : kelainan berupa bersin yang kronis

3. Pewarisan Alel Resesif Tertaut Kromosom Seks Kelamin X

a. Buta warna : penderita umumnya tidak dapat membedakan warna

b. Ichtyosis : defisiensi enzim sulfatase steroid yang menyebabkan kulit kering, tampakp bersisik seperti ikan, khusunya pada lengan dan kaki

c. Distrofi otot : semakin melemah atau menghilangnya koordinasi otot-tot karena tidak adanya satu protein otot penting yang disebut distrofin.

d. Hemophilia : merupakan sifat resesif tertaut seks yang disebakan oleh tidak adanya protein tertentu yang diperlukan untuk penggumpalan darah, sehingga ketika terluka akan mengalmi pendarahan yang berlebih sehingga dapat mengarah pada kematian.

e. Sindrom fragile-X : namanya diambil dari penampakan fisik kromosom X yang tidak normal, yaitu mengalami konstriksi atau penekukan di bagian ujung lengan kromosom yang panjang sehingga menyebabkan keterbelakangan mental.

f. Sindrom Lesch-Nyhan : defisiensi enzim hipoksantin-guanin fosforifil transferase yang menyebabkan keterbelakangan mental, degenerasi motorik, dan dapat mengarah pada kematian di usia muda.

4. Aberasi Jumlah Kromosom

a. Kondisi XYY : kelainan ini adalah kelainan yang paling ringan diantara kelainan menurut jumlah kromosom lainnya. Gealanya hanya keterbelakangan mental ringan yang dapat disembuhkan melalui terapi, dan terkadang tidak memnunjukkan ciri-ciri yang signifikan.

b. Sindrom Down : penderita akan mengalami keterbelakangan mental dan idiot. Juga memiliki kemungkinan untuk memiliki jantung yang tidak normal atau cacat.

c. Sindrom Klinefelter (XXY) : keterbelakangan mental yang dialami penderita adalah akibat lain selain dari sterilitas atau mandul. Ciri-cirinya adalah laki-laki yang memiliki tubuh seperti perempuan karena mengalami trisomi sehingga kelebihan kromosom X pada genosom.

d. Sindrom Turner (XXX) : kelainan ini terjadi pada perempuan di mana munculnya sifat-sifat seksual yang tidak normal dan pertumbuhan yang tidak lazim. Perempuan yang memiliki kelainan ini akan memiliki tubuh seperti laki-laki dan bersifat kasar.

5. Aberaasi Struktur Kromosom

a. Sindrom Cri du chat : sindrom yang berupa akibat dari kesalahan pada struktur kromosom yang menyebabkan pertumbuhan laring tidak normal, pada saat penderita menangis suara tangisannya akan berupa suara tangisan kucing. Selain itu juga berakibat pada keterbelakangan mental.

b. Chronic Myelogenous Leukimia (CML) : struktur kromosom yang salah menyebabkan produksi sel darah putih berlebihan pada sumsum tulang belakang.

Perbaikan mutu genetic adalah salah satu cara yang ditemukan para ahli sebagai dampak positif dari adanya persilangan-persilangan dan mutasi. Perbaikan mutu genetic ini dibagi menjadi 3 :

1. Seleksi : di alam terdapat banyak varietas tumbuhan maupun binatang yang dapat dikatakan unggul, variasi ini dapat disilangkan dan akan menghasilkan varietas unggul yang berguna bagi manusia

2. Persilangan / hibridisasi : perkawinan antara dua individu tanaman atau hewan yang beraal dari spesies yang sama namun brbeda tipe genetiknya. Hibridisasi digolongkn menjadi 4 jenis, yaitu adalah :

a. Inbreeding / close breeding : disebut juga sebagai persilangan sanak, bila diibaratkan sebagai manusia maka persilangan ini adalah antara kakak dan adik kandung dengan tujuan untuk mendapat turunan yang bergalur murni.

b. Pure breeding : persilangan antara jantan dan betina dari spesies dan ras yang sama dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan yang homozigot. 

c. Cross breeding : perkawinan antara jantan dan betina dari dua ras yang berbeda dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan dengan sifat baru.

d. Up breeding : perkawinan antar hewan jantan dengan kualitas unggul yang biasanya berasal dari Negara yang berbeda dengan wanita yang juga berasal dari Negara lain. Persilangan ini bertujun untuk memperbaiki mutu jewan di daerah setempat.

3. Mutasi buatan : merupakan perubahan susunan atau jumlah materi genetic atau DNA atau kromosom pada sel sel tubuh makhluk hidup yang dilakuukan dengan sengaja oleh manusia. Contohnya adalah dengan menggunakan radioisotope yaitu sinar alfa, beta, dan gamma.


PEMBELAHAN SEL DAN GAMETOGENESIS



A.  PEMBELAHAN SEL

Sel merupakan bagian dan unit terkecil yang menyusun tubuh kita, dan untuk menjaga kelangsungan hidup sel-sel terus membelah agar tubuh kita dapat terus tumbuh, selain itu sel juga membelah untuk mengganti sel-sel yang rusak.

Pembelahan sel adalah sebuah proses dimana sel asal atau induk membelah dan membagi dirinya menjadi dua atau lebih sel anakan. Pada organisme bersel satu (uniseluler) seperti bakteri dan protozoa, proses pembelahan sel bertujuan untuk reproduksi atau berkembang biak, sedangkan pada organisme bersel banyak (multiseluler), pembelahan sel menghasilkan bertambahnya sel-sel tubuh untuk perkembangan atau mengganti sel-sel yang rusak.

Pembelahan sel juga berlangsung pada proses untuk menghasilkan gamet atau sel kelamin, berdasarkan proses pembelahannya, pembelahan sel dibagi menjadi tiga jenis yaitu amitosis, mitosis, dan meiosis.

1.   AMITOSIS

Pembelahan Amitosis juga dikenal dengan pembelahan biner. Pembelahan amitosis adalah pembelahan sel tanpa melalui tahap-tahap tertentu atau terjadi secara langsung, pembelahan sel seperti ini terjadi pada reproduksi aseksual organisme prokariotik seperti bakteri, amoeba, alga biru dan organisme bersel satu lainnya.

Pembelahan Amitosis berlangsung secara sederhana yaitu meliputi proses pertumbuhan sel, penggandaan materi genetik (DNA), kemudian diikuti pembelahan kromosom, pemisahan inti, kemudian pembelahan sitoplasma yang didahului oleh pembentukan dinding sel baru. Pembelahan amitosis menghasilkan dua sel anakan yang identik(serupa).

Pada sel prokariotik bahan genetik (DNA) tidak berstruktur dimana terdapat pada nukleolit yang tidak diselubungi oleh membran serta berukuran relatif lebih kecil dibandingkan dengan DNA pada sel eukariotik.


Pembelahan Amitosis pada Bakteri

Ket :
1.    Kromosom bakteri menempel pada membran plasma.
2.    Kromosom mengalami replikasi selama sel tumbuh sampai seluruh kromosom selesai bereplikasi.
3.    Sel mulai mengalami pembelahan
4.    Pada akhir proses terbentuk dua sel anakan.


2.   MITOSIS

Pembelahan mitosis merupakan pembelahan sel yang melalui tahap-tahap pembelahan tertentu. Pembelahan mitosis terjadi pada sel eukariotik dimana sel induk yang membelah mengandung kromosom diploid (2n) dan menghasilkan dua sel anakan yang identik yang juga mengandung kromosom diploid (2n). pembelahan mitosis bertujuan dalam pertumbuhan, perbanyakan, serta pergantian sel-sel yang rusak, sehingga pembelahan mitosis terjadi pada sel tubuh (sel somatik).

Pembelahan mitosis melewati beberapa tahap atau fase, yaitu fase interfase atau fase pertumbuhan dan fase mitosis (M) atau fase pembelahan.

a.   Interfase
Pada fase ini sel berada dalam keadaan istirahat dan tidak melakukan pembelahan dan sebagian besar waktu hidup sel berada pada fase ini. Fase ini merupakan tahap persiapan untuk mempersiapkan pembelahan dan metabolisme sel. Pada fase ini terjadi replikasi DNA.

Pada fase interfase kromosom tidak tampak karena berbentuk benang-benang kromatin yang halus. Interfase terbagi menjadi 3 tahap yaitu :

1)   Fase G1 (Growth 1)
Merupakan fase pertumbuhan pertama dimana pada fase ini terjadi pertumbuhan sel serta terbentuknya organel-organel sel. Pada fase ini belum terjadi replikasi DNA, dimana DNA bersifat diploid (2n).

2)   Fase S (Fase sintesis)
Pada fase ini terjadi replikasi DNA, dimana DNA dalam inti mengalami replikasi sehingga menghasilkan 2 salinan DNA yang diploid (2n)

3)   Fase G2 (Growth 2)
Fase ini merupakan fase dimana sel bersiap-siap mengadakan pembelahan, pada fase ini organel-organel sel yang telah terbentuk pada fase G1 berkembang dan memperbanyak diri. Pada fase ini terjadi replikasi sentriol dan peningkatan energi cadangan sedangkan inti sel (nukleus) telah terbentuk dengan jelas dan dibungkus oleh membran inti.

  
Siklus Sel


b.   Fase Mitosis
Pada fase ini terjadi dua proses pembelahan yaitu kariokinesis dan sitokinesis. Kariokinesis adalah proses pembelahan inti sel dan sitokinesis adalah proses pembelahan sitoplasma.

Kariokinesis terdiri dari beberapa tahap yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase.
1)   Profase
Pada tahap ini terjadi proses-proses sebagai berikut :
-      Benang-benang kromatin membentuk kromosom.
-      Kromosom menduplikasikan diri menjadi sepasang kromatid yang melekat pada sentromer.
-      Pada sel hewan, sentriol mengalami pembelahan menjadi dua buah yang kemudian bergerak ke ujung sel yang berlawanan yang disebut kutub, selain itu mikrotubulus muncul terbentuk.
-      Membran inti dan anak inti menghilang dan kromosom terletak bebas di dalam sitoplasma.
-      Benang-benang spindel mulai terbentuk.

2)   Metafase
Pada tahap ini terjadi proses-proses sebagai berikut :
-      Benang-benang spindel atau mikrotubulus mulai terbentuk teratur seperti kumparan, benang-benang spindel ini melekat pada sentromer yaitu bagian kinetokor.
-      Benang-benang spindel menghubungkan kromosom menuju kutub pembelahan yang berlawanan.
-      Kromosom berada di daerah ekuator yang merupakan bidang pembelahan, kromosom ini terdiri dari 2 kromatid.

3)   Anafase
Pada tahap ini terjadi proses-proses antara lain :
-      Benang-benang spindel (mikrotubulus) mulai memendek.
-      Sentromer pada masing-masing kromatid membelah menjadi dua dan kromatid bergerak menuju kutub yang berlawanan, kromatid dapat bergerak menuju kutubnya karena konstraksi pada benang spindel (mikrotubulus) yang berasal dari sentriol dari masing-masing kutub.
-      Kromatid yang bergerak menuju kutub menghasilkan salinan  kromosom berpasangan yang jumlahnya sama dan merata pada setiap kutub.

4)   Telofase
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari kariokinesis dimana terjadi proses-proses antara lain :
-      Anak inti (nukleolus) dan membran inti mulai terbentuk.
-      Kromatid mulai menipis dan berubah menjadi benang kromatin.
-      Benang-benang spindel atau mikrotubulus menghilang.
-      Dua anak inti terbentuk di dalam sel.
-      Tahap telofase diakhiri dengan proses sitokinesis.


Tahap-tahap pembelahan Mitosis.


Setelah  proses kariokinesis selesai maka selanjutnya dilanjutkan dengan proses sitokinesis yaitu pembelahan sitoplasma sel yang akan membelah sel menjadi 2 sel anakan.

Proses sitokinesis pada sel hewan dan sel tumbuhan terdapat perbedaan. Sitokinesis pada sel hewan terjadi dengan proses :
-      Terjadi penguraian benang-benang spindel.
-      Pada tahap proses ini terbentuk cincin mikrofilamen yang menyempit di daerah bekas ekuator dan terjadi konstraksi di cincin ini yang berlangsung terus-menerus dan membagi sel menjadi dua sel anakan.

Pada sel tumbuhan proses sitokinesis agak berbeda dengan proses sitokinesis pada sel hewan dimana terjadi proses antara lain :
-      Tumbuhan mempunyai dinding sel yang keras dan setelah proses kariokinesis selesai sel segera membentuk sekat sel di sekitar bidang pembelahan.
-      Sekat ini mula-mula terbentuk dari vesikel membran yang berasal dari badan golgi, vesikel ini kemudian mengumpul di ekuator dan terjadi fusi vesikel, fusi vesikel ini membentuk sekat sel yang akhirnya membentuk dua sel anakan.

Pada pembelahan mitosis terdapat perbedaan antara sel hewan dan sel tumbuhan yang disebabkan perbedaan struktur diantara keduanya. Berikut perbedaan antara pembelahan mitosis pada sel hewan dan sel tumbuhan.

Perbedaan Pembelahan Mitosis pada Sel Hewan dan Tumbuhan.

Selain pada proses tahapan pembelahan mitosis pada akhir pembelahan yaitu pada tahap sitokinesis juga juga terdapat perbedaan.


Tahap Sitokinesis yang terjadi pada Sel Hewan

Ket :
1.    Penguraian benang spindel
2.    Terbentuknya cincin mikrofilamen yang berada di bidang ekuator
3.    Terjadi konstraksi yang membagi sel menjadi dua
4.    Terbentuk dua sel anakan


  
Tahap Sitokinesis yang terjadi pada Sel Tumbuhan
Ket :
1.    Vesikel terkumpul di bidang ekuator
2.    Terjadi fusi vesikel
3.    Sekat sel terbentuk
4.    Terbentuk dua sel anakan


3.   MEIOSIS (PEMBELAHAN REDUKSI)

Pembelahan meiosis adalah pembelahan sel yang melalui tahap-tahap pembelahan yang hampir sama dengan pembelahan mitosis, perbedaan pembelahan mitosis dengan meiosis adalah pada meiosis terjadi dua kali pembelahan yang disebut meiosis I dan meiosis II. Pada tahap meiosis I terdiri dari beberapa fase yaitu interfase, profase I, metafase I, anafase I, dan telofase I, sedangkan pada meiosis II terdiri dari beberapa fase antara lain profase II, metafase II, anafase II, dan telofase II.

a.   Meiosis I

1)   Interfase
Pada tahap ini terjadi replikasi DNA dan persiapan untuk melakukan pembelahan dimana terjadi peningkatan energi cadangan.

2)   Profase I
Tahap ini dibagi juga menjadi beberapa fase yaitu leptoten, zigoten, pakiten, diploten, dan diakinesis.

a)   Leptoten
-      Kromatin berubah menjadi kromosom dengan cara memadatkan diri (mengalami kondensasi) dan terlihat sebagai benang tunggal.
-      Kromosom yang terbentuk adalah kromosom homolog yang terdiri atas dua kromatid yang saling berpasangan.
-      Pada beberapa organisme, kromosom mengandung bentukan-bentukan seperti manik-manik yang disebut kromomer yang mudah menyerap warna.

b)   Zigoten
-      Pada tahap ini sentrosom membelah menjadi dua sentriol dan bergerak ke arah kutub yang berlawanan.
-      Terjadi sinapsis yaitu berpasangannya kromosom homolog yang berasal dari gamet kedua induk.

c)   Pakiten
-      Setiap kromosom menggandakan diri membentuk dua kromatid sehingga setiap kromosom yang berpasangan mempunyai empat kromatid yang disebut tetrad atau bivalen.

d)   Diploten
-      Pada tahap ini kromosom homolog saling menjauhi sehingga terbentuk kiasma.
-      Kiasma terjadi ketika pada saat kromosom homolog menjauh terdapat titik persinggungan dimana kiasma merupakan tempat terjadinya pindah silang.

e)   Diakinesis
-      Pada tahap ini terbentuk benang-benang spindel (mikrotubulus) dari pergerakan dua sentriol ke arah kutub berlawanan.
-      Diakinesis diakhiri dengan menghilangnya nukleus(anak inti) dan membran nukleus.


Tahap Interfase dan Profase I


3)   Metafase I
-      Pada tahap ini benang-benang spindel (mikrotubulus) melekatkan diri pada sentromer kromosom dan ujung yang lainnya melekat pada kedua kutub pembelahan.
-      Kromosom homolog bergerak ke bidang ekuator dengan sentromer mengarah ke kutub.

4)   Anafase I
-      Pada tahap ini kromosom homolog ditarik oleh benang-benang spindel ke arah kutub pembelahan dan tiap kutub memiliki 1 set kromosom.
-      Pada tahap ini isi kromosom yang masih diploid dibagi menjadi haploid.

5)   Telofase I
-      Benang-benang spindel (mikrotubulus) menghilang dan sentriol mengganda menjadi dua.
-      Retikulum endoplasma membentuk membran inti kembali di sekitar kelompok kromosom pada kutub pembelahan.
-      Anak inti (nukleus) dan membran inti mulai terbentuk.
-      Kromosom berubah menjadi benang kromatin kembali.
-      Terjadi sitokinesis dimana terjadi pembelahan sitoplasma menjadi dua bagian.
-      Terbentuk dua sel anakan yang bersifat haploid.

Tahap Metafase I, Anafase I, Telofase I dan Sitokinesis


b.   Meiosis II
Sebelum tahap pembelahan meiosis II berlangsung diawali dengan tahap interkinesis. Sebelumnya pada pembelahan meiosis I telah terbentuk sel anakan haploid, dengan kromosom masih berisi sepasang kromatid. Pada meiosis II terjadi pembagian kromatid tunggal kepada sel anakan baru. Tahap meiosis II dibagi lagi menjadi beberapa tahap yaitu profase II, metafase II, anafase II, dan telofase II.

1)   Profase II
-      Benang-benang kromatin berubah kembali menjadi kromasom yang terdiri dari sepasang kromatid yang masih melekat di setiap sentromer kromosom.
-      Anak inti (nukleolus) dan membran inti menghilang.
-      Benang-benang spindel mulai terbentuk.
-      Terjadi pembelahan sentriol pada masing-masing sel anakan menjadi 2 pasang sentriol baru yang kemudian bergerak menuju kutub-kutub pembelahan.

2)   Metafase II
-      Benang-benang spindel sudah terbentuk dan salah satu ujungnya melekat pada sentromer dan ujung lainnya membentang menuju kutub pembelahan yang berlawanan.
-      Tiap-tiap kromosom yang berisi dua kromatid tertarik ke bidang ekuator, dan masing-masing kromatid mengarah ke kutub yang berlawanan.

3)   Anafase II
-      Benang-benang spindel menarik kromatid menuju kutub pembelahan yang berlawanan.
-      Kromosom memisahkan kedua kromatidnya dan bergerak menuju kutub pembelahan yang berbeda.

4)   Telofase II
-      Benang-benang spindel menghilang dan kromatid yang telah tertarik ke kutubnya berubah kembali menjadi benang-benang kromatin.
-      Membran inti dan empat inti haploid terbentuk.
-      Tahap ini diakhiri dengan terjadinya sitokinesis (pembelahan sitoplasma) sehingga terbentuk empat sel anakan yang bersifat haploid (n).

Tahap Profase II, Metafase II, Anafase II, Telofase II dan Sitokinesis.


Meiosis disebut juga pembelahan reduksi yaitu pembelahan sel induk diploid (2n) yang menghasilkan empat sel anakan haploid (n). pembelahan meiosis terjadi pada proses pembentukan sel gamet (gametogenesis). Pembelahan meiosis menghasilkan gamet yang secara genetik tidak identik dengan induknya sehingga menyebabkan variasi genetik pada keturunannya.

Perbandingan antara pembelahan mitosis dengan meiosis.



B.  GAMETOGENESIS

Sebelum menjadi individu yang baru, baik pada hewan maupun tumbuhan diperlukan suatu bahan pembentuk individu yang baru, bahan tersebut adalah sel kelamin atau gamet, dimana gamet jantan dan betina diperlukan untuk membentuk zigot, zigot inilah yang akan berkembang menjadi embrio dan menjadi individu baru.

Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet atau sel kelamin. Gametogenesis terjadi melalui pembelahan meiosis yang terjadi pada organ reproduksi hewan dan tumbuhan.

1.   GAMETOGENESIS PADA HEWAN

Pada dasarnya gametogenesis pada hewan sama dengan gametogenesis pada manusia, yang dibagi menjadi dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis.

a.   Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses gametogenesis (pembentukan gamet) yang terjadi pada hewan jantan. Spermatogenesis terjadi di dalam testis. Proses spermatogenesis berawal dari sel primordial (2n) mengalami pembelahan mitosis berkali-kali dan membentuk sel spermtogonium yang merupakan sel induk sperma yang pada perkembangan selanjutnya berkembang menjadi spermatosit primer (2n).

Spermatosit primer kemudian mengalami pembelahan meiosis I dan membentuk dua sel spermatosit sekunder yang bersifat haploid (n). dua sel spermatosit sekunder membelah lagi pada tahap pembelahan meiosis II dan menghasilkan empat sel spermatid yang akan berdiferensiasi menjadi sel sperma (n).

Proses pembelahan pada Spermatogenesis


b.   Oogenesis
Oogenesis adalah proses gametogenesis yang terjadi pada hewan betina yang terjadi di dalam ovarium. Proses oogenesis berawal dari sel induk diploid (2n) yang berkembang menjadi oogonium atau sel induk telur yang kemudian mengalami perkembangan menjadi oosit primer (diploid), oosit primer kemudian membelah pada tahap meiosis I membentuk sel oosit sekunder (sel berukuran besar) dan polosit atau badan kutub primer yang berukuran kecil. Selanjutnya ootid sekunder menghasilkan ootid dan badan kutub sekunder, sedangkan badan kutub primer mengalami pembelahan menghasilkan dua badan kutub sekunder, walaupun biasanya sudah mengalami degenerasi sebelum membelah.


Proses pembelahan pada Oogenesis


2.   GAMETOGENESIS PADA TUMBUHAN

Gametogenesis pada tumbuhan tingkat tinggi dibagi menjadi dua bagian yaitu mikrosporogenesis dan megasporogenesis.

a.   Mikrosporogenesis
Mikrosporogenesis adalah proses gametogenesis yang terjadi pada alat kelamin jantan tumbuhan. Mikrosporogenesis terjadi di dalam kepala sari dan menghasilkan serbuk sari. Dalam kepala sari terdapat mikrosporosit yang mengalami pembelahan meiosis I dan dilanjutkan dengan pembelahan meiosis II yang membentuk empat mikrospora yang disebut tetrad. Pada perkembangan selanjutnya keempat mikrospora terpisah satu sama lain dan membentuk serbuk sari.


Proses pembelahan pada Mikrosporogenesis


b.   Megasporogenesis
Megasporogenesis adalah gametogenesis pada alat kelamin betina tumbuhan. Megasporogenesis terjadi di dalam ovarium dan menghasilkan megaspora. Sel induk megaspora menghasilkan mengalami pembelahan meiosis I dan meiosis II dan membentuk empat sel megaspora haploid.

Pada angiospermae tiga buah sel megaspora mengalami degenerasi dan mati dan satu sel megaspora yang fungsional yang selanjutnya  akan mengalami tiga kali kariokinesis dan menghasilkan delapan inti haploid dalam kandung lembaga muda.

Pada proses selanjutnya dari delapan inti tersebut, tiga buah inti di mikrofil membentuk dua sel sinergid dan satu sel telur, dua inti ditengah membentuk sel kutub, serta tiga inti di kalaza membentuk tiga sel antipoda yang  berada dalam kandung lembaga yang telah masak (megagametosit).


Proses pembelahan pada Megasporogenesis







Template by : kendhin x-template.blogspot.com